
Syahdan ini ceritera tentang tikus, di bilik hamba digigitnya pakaian hingga tembus.
Lalu hamba membeli sa-buah perangkap, mengumpan keropok keping si ikan siakap.
Maka hamba letak di tepi peti sejuk, kerna di situ selalu sang tikus menyorok-nyorok.
Besok paginya perangkap hamba sudah mengena, dua ekor skali dapat entah mana yang jantan mana yang betina.
Alohai nenek hamba pula amat benci akan sang tikus, direndamnya mereka berdua supaya mampus.Namun arakian kuasa Allah Sarwa Alam amat Bijaksana, sang tikus berenang-renang pandai pula lagaknya.
Maka hamba terasa kasihan, hajat dihati mau sahaja hamba lepaskan.
Tetapi mengenang akan pakaian hamba yang berlobang-lobang, hamba geram hamba jemur sang tikus di tengah padang.Barangkali tiada tahan akan kepanasan, sang tikus mati bergelimpangan.
Oh gerangan oh tuan
Hamba bukannya jahat cuma sedikit garang.
Sang tikus selalu mengacau-ngacau dalam almari, takkan hamba nak biar berdiam diri..
Arakian kalau tuan hamba ke jajahan Wangsa Maju, DBKL mau bayar RM2.00 untuk sa-ekor tikus wa cakap lu.
Ah! Malam ini hamba mau pasang lagi perangkap, rasanya masih banyak sanak sauudara sang tikus yang belum ditangkap.
Perang manusia sesama tikus, perang yang udah lama meletus.
Sang tikus merosakkan padi, tidakkah kasihan sama pak tani..
Perang sang tikus terhadap manusia, berkurun-kurun sudah wujudnya.
Sang tikus sebarkan wabak, manusia menderita mencari obat.
Tapikan terkadang sang tikus menjadi inspirasi, dibuat peribahasa dibuat puisi.
Umpama tikus membaiki labu, pi mai pi mai tang tu.
Sekian.
Lalu hamba membeli sa-buah perangkap, mengumpan keropok keping si ikan siakap.
Maka hamba letak di tepi peti sejuk, kerna di situ selalu sang tikus menyorok-nyorok.
Besok paginya perangkap hamba sudah mengena, dua ekor skali dapat entah mana yang jantan mana yang betina.
Alohai nenek hamba pula amat benci akan sang tikus, direndamnya mereka berdua supaya mampus.Namun arakian kuasa Allah Sarwa Alam amat Bijaksana, sang tikus berenang-renang pandai pula lagaknya.
Maka hamba terasa kasihan, hajat dihati mau sahaja hamba lepaskan.
Tetapi mengenang akan pakaian hamba yang berlobang-lobang, hamba geram hamba jemur sang tikus di tengah padang.Barangkali tiada tahan akan kepanasan, sang tikus mati bergelimpangan.
Oh gerangan oh tuan
Hamba bukannya jahat cuma sedikit garang.
Sang tikus selalu mengacau-ngacau dalam almari, takkan hamba nak biar berdiam diri..
Arakian kalau tuan hamba ke jajahan Wangsa Maju, DBKL mau bayar RM2.00 untuk sa-ekor tikus wa cakap lu.
Ah! Malam ini hamba mau pasang lagi perangkap, rasanya masih banyak sanak sauudara sang tikus yang belum ditangkap.
Perang manusia sesama tikus, perang yang udah lama meletus.
Sang tikus merosakkan padi, tidakkah kasihan sama pak tani..
Perang sang tikus terhadap manusia, berkurun-kurun sudah wujudnya.
Sang tikus sebarkan wabak, manusia menderita mencari obat.
Tapikan terkadang sang tikus menjadi inspirasi, dibuat peribahasa dibuat puisi.
Umpama tikus membaiki labu, pi mai pi mai tang tu.
Sekian.